oleh: Mac Wajong Atlet Sulut

KONSEP PEMBINAAN DAN PEMBENTUKAN TIM TERBAIK GABSI SULAWESI UTARA

I. LATAR BELAKANG

Sulawesi Utara memiliki potensi atlet bridge yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Tomohon, Minahasa Utara, Manado, Bitung, Minahasa dan daerah lainnya memiliki pemain, pengalaman, club serta potensi pembinaan yang berbeda.

Persoalannya bukan semata-mata kekurangan pemain, tetapi bagaimana seluruh potensi tersebut dapat diaktifkan kembali, ditingkatkan kualitasnya dan kemudian dikolaborasikan menjadi kekuatan Sulawesi Utara.

Karena itu diperlukan perubahan cara pandang dalam pembinaan.

GABSI Sulawesi Utara tidak hanya bertugas mencari atlet yang sudah jadi untuk mengikuti kejuaraan, tetapi harus membangun sistem yang mampu memproduksi atlet secara berkelanjutan.

Prinsip dasarnya adalah:

“SETIAP DAERAH ADALAH PRODUSEN ATLET.
GABSI SULUT ADALAH INTEGRATOR.
TIM SULUT ADALAH HASIL KOLABORASI TERBAIK DARI SELURUH DAERAH.”

II. SETIAP DAERAH ADALAH PRODUSEN

Tomohon adalah produsen atlet.

Minahasa Utara adalah produsen atlet.

Manado adalah produsen atlet.

Bitung adalah produsen atlet.

Minahasa adalah produsen atlet.

Demikian pula Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Bolaang Mongondow Raya, Sangihe, Talaud, Sitaro dan daerah lainnya.

Tidak ada daerah yang hanya berfungsi sebagai peserta.

Setiap daerah perlu kembali mengaktifkan “mesin produksi” atletnya sendiri.

Produksi atlet harus dimulai dari:

  1. Recruitment
  2. Latihan rutin
  3. Pembinaan junior
  4. Kompetisi
  5. Evaluasi
  6. Seleksi
  7. Regenerasi

Dengan demikian, setiap daerah mempunyai pipeline atlet sendiri.

III. MENGAKTIFKAN KEMBALI PEMBINAAN DI DAERAH

Pembinaan jangan hanya aktif menjelang Porprov atau Kejurnas.

Pembinaan harus berlangsung sepanjang tahun.

Setiap daerah minimal memiliki:

  • Program recruitment pemain baru.
  • Latihan rutin.
  • Pembinaan junior.
  • Kompetisi internal.
  • Pertandingan antar-club.
  • Evaluasi pemain.
  • Program peningkatan kemampuan.
  • Program regenerasi.

Daerah yang saat ini sudah memiliki sistem pembinaan dapat memperkuat dan memperluas programnya.

Daerah yang pembinaannya sedang melemah perlu mengaktifkannya kembali.

Daerah yang belum memiliki basis pembinaan dapat memulainya dari program junior dan pemula.

Tidak semua daerah harus menghasilkan atlet dengan jumlah dan kualitas yang sama.

Yang penting adalah mesin produksinya kembali hidup.

IV. TOMOHON DAN MINAHASA UTARA

Tomohon harus dilihat sebagai salah satu produsen atlet Sulawesi Utara, bukan hanya sebagai pihak yang membantu daerah lain.

Demikian pula Minahasa Utara harus dipandang sebagai salah satu produsen atlet yang memiliki potensi untuk terus berkembang.

Keberhasilan Minahasa Utara harus mendapat pengakuan dan penghormatan dari daerah lain.

Keberhasilan Tomohon juga merupakan bagian dari kekuatan Sulawesi Utara.

Tidak perlu mempertentangkan siapa yang lebih baik.

Prestasi suatu daerah harus menjadi motivasi bagi daerah lainnya.

Prinsipnya:

“KITA BOLEH BERSAING DI MEJA PERTANDINGAN, TETAPI KITA HARUS BERKOLABORASI DALAM MEMBANGUN ATLET SULAWESI UTARA.”

V. KOLABORASI PRODUKSI ATLET

Setelah setiap daerah mengaktifkan pembinaannya, hasil produksi tersebut perlu dikolaborasikan.

Kolaborasi dapat dilakukan melalui:

  • TC bersama.
  • Coaching clinic.
  • Pertandingan persahabatan.
  • Pertukaran pelatih.
  • Pertukaran materi latihan.
  • Partnership development.
  • Junior camp.
  • Kompetisi antar-daerah.
  • Analisis pertandingan bersama.
  • Program seleksi provinsi.

Dengan demikian, setiap daerah tetap membangun kekuatannya sendiri, tetapi tidak berjalan sendiri-sendiri.

VI. POOL ATLET SULAWESI UTARA

GABSI Sulut perlu membangun “Pool Atlet Sulut”.

Pool ini merupakan database atlet dari seluruh kabupaten/kota.

Data atlet minimal mencakup:

  • Nama atlet.
  • Umur.
  • Kabupaten/kota.
  • Club.
  • Kategori.
  • Partner.
  • Sistem yang dikuasai.
  • Hasil pertandingan.
  • Perkembangan teknis.
  • Pengalaman kompetisi.
  • Evaluasi pelatih.
  • Attitude.
  • Status pembinaan.

Dengan adanya database tersebut, proses pembinaan dan seleksi menjadi lebih objektif.

Pemilihan atlet tidak hanya berdasarkan siapa yang dikenal, senioritas atau asal daerah.

Pemilihan harus mempertimbangkan:

  • kemampuan teknis;
  • prestasi;
  • partnership;
  • perkembangan;
  • attitude;
  • disiplin;
  • komitmen;
  • dan kebutuhan tim.

VII. ATLET DAERAH MENJADI ATLET SULUT

Seorang atlet tetap menjadi bagian dari daerah dan club asalnya.

Namun ketika masuk dalam program provinsi, atlet tersebut juga memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari Sulawesi Utara.

Jalur pembinaannya:

CLUB
↓
KABUPATEN/KOTA
↓
POOL ATLET SULUT
↓
TC PROVINSI
↓
SELEKSI
↓
TIM SULUT

Dengan sistem ini, kepentingan daerah dan provinsi tidak perlu dipertentangkan.

Daerah memproduksi.

Provinsi mengintegrasikan.

Hasil terbaik menjadi kekuatan Sulawesi Utara.

VIII. MEMBENTUK TIM TERBAIK SULAWESI UTARA

Tim terbaik Sulawesi Utara tidak harus berasal dari satu daerah.

Sangat mungkin tim terbaik terdiri dari atlet:

Tomohon + Minut

Tomohon + Manado

Manado + Bitung

Minahasa + Tomohon

Minut + Manado

atau kombinasi daerah lainnya.

Yang menjadi dasar bukan asal daerah, tetapi kemampuan membentuk partnership dan team yang kuat.

Seleksi harus mempertimbangkan:

  • kemampuan teknis;
  • hasil pertandingan;
  • partnership;
  • chemistry;
  • attitude;
  • disiplin;
  • komitmen;
  • dan kebutuhan komposisi tim.

IX. BEST OF SULUT CAMP

GABSI Sulut dapat membentuk program “Best of Sulut Camp”.

Peserta berasal dari atlet terbaik hasil pembinaan masing-masing daerah.

Dalam camp tersebut dilakukan:

  1. Bidding test.
  2. Declarer play test.
  3. Defense test.
  4. Counting test.
  5. Competitive bidding.
  6. Partnership test.
  7. Team simulation.
  8. Analisis board.
  9. Evaluasi attitude.
  10. Evaluasi disiplin dan komitmen.

Tujuan akhirnya bukan sekadar mencari pemain dengan nilai individu tertinggi.

Yang dicari adalah:

“PASANGAN DAN TEAM YANG PALING EFEKTIF UNTUK MEMBAWA NAMA SULAWESI UTARA.”

X. PEMBINAAN JUNIOR

Junior harus menjadi investasi utama.

Program junior perlu dibangun secara berjenjang:

PEMULA

Mengenal bridge dan fundamental permainan.

JUNIOR DEVELOPMENT

Mempelajari bidding, declarer play, defense, counting dan partnership.

PERFORMANCE

Mulai diarahkan pada kompetisi yang lebih serius.

ELITE JUNIOR

Dipersiapkan untuk kompetisi nasional dan menjadi calon atlet senior masa depan.

Pembinaan junior tidak boleh hanya mengejar jumlah peserta.

Yang lebih penting adalah kualitas perkembangan.

XI. PENINGKATAN KUALITAS TEKNIS

Atlet harus terus meningkatkan:

  • Bidding.
  • Declarer play.
  • Defense.
  • Counting.
  • Card reading.
  • Competitive bidding.
  • Judgment.
  • Partnership understanding.
  • Team strategy.
  • Kemampuan menganalisis board.

Setiap TC harus mempunyai target teknis yang jelas.

Tidak cukup hanya bermain banyak board.

Setelah bermain harus ada analisis:

Apa yang benar?

Apa yang salah?

Mengapa salah?

Bagaimana memperbaikinya?

Apa yang harus dilakukan pada situasi yang sama berikutnya?

XII. TECHNICAL SKILL DAN ATTITUDE

Atlet bridge tidak cukup hanya pintar bermain kartu.

Ada dua kualitas yang harus berjalan bersama.

PERTAMA: TECHNICAL SKILL

Kemampuan bermain harus meningkat secara nyata.

KEDUA: ATHLETE ATTITUDE

Atlet harus memiliki:

  • Disiplin.
  • Tanggung jawab.
  • Sportivitas.
  • Menghormati partner.
  • Menghormati lawan.
  • Menghormati pelatih.
  • Menghormati wasit.
  • Mampu menerima kritik.
  • Mampu menerima kekalahan.
  • Tidak menyalahkan partner.
  • Mau melakukan evaluasi.
  • Menjaga nama daerah dan Sulawesi Utara.

Prinsipnya:

“ATLET YANG BAIK BUKAN HANYA YANG MAMPU MEMENANGKAN BOARD, TETAPI JUGA MAMPU MENJAGA SIKAPNYA KETIKA MENANG MAUPUN KALAH.”

XIII. KOMITMEN TERHADAP KESEMPATAN YANG DITERIMA

Setiap atlet yang mendapatkan kesempatan mengikuti:

  • TC;
  • coaching;
  • fasilitas;
  • akomodasi;
  • transportasi;
  • dukungan pertandingan;
  • perlengkapan;
  • maupun dukungan lainnya, harus memberikan komitmen yang sepadan.

TC bukan sekadar fasilitas.

TC adalah kesempatan sekaligus tanggung jawab.

Komitmen atlet harus terlihat dari:

  • Kehadiran.
  • Ketepatan waktu.
  • Keseriusan mengikuti latihan.
  • Persiapan sebelum TC.
  • Latihan mandiri.
  • Mengikuti arahan pelatih.
  • Menerima evaluasi.
  • Memperbaiki kelemahan.
  • Menjaga kondisi.
  • Menjaga attitude.
  • Menerapkan hasil latihan dalam pertandingan.

Prinsip yang perlu dibangun:

“KESEMPATAN HARUS DIBALAS DENGAN KOMITMEN.”

“DUKUNGAN HARUS MENGHASILKAN PENINGKATAN KUALITAS.”

“TC HARUS MENGHASILKAN PERKEMBANGAN.”

XIV. TC HARUS MEMILIKI OUTPUT

TC tidak boleh hanya menjadi kegiatan berkumpul dan bermain.

Setiap TC harus memiliki:

INPUT

  • Atlet.
  • Target.
  • Materi.
  • Pelatih.
  • Jadwal.

PROCESS

  • Latihan.
  • Simulasi.
  • Pertandingan.
  • Coaching.
  • Analisis board.
  • Evaluasi.

OUTPUT

  • Peningkatan kemampuan.
  • Evaluasi individu.
  • Evaluasi partnership.
  • Catatan kelemahan.
  • Target latihan berikutnya.

Setiap atlet sebaiknya memiliki catatan perkembangan.

Aspek yang dinilai:

  • Bidding.
  • Declarer play.
  • Defense.
  • Counting.
  • Judgment.
  • Partnership.
  • Discipline.
  • Attitude.
  • Competition performance.

XV. KOLABORASI PELATIH

Kolaborasi tidak hanya dilakukan antar-atlet.

Pelatih dari seluruh daerah juga perlu dikolaborasikan.

GABSI Sulut dapat membangun “Coaching Pool Sulut”.

Pelatih dapat berbagi keahlian dalam:

  • Bidding.
  • Declarer play.
  • Defense.
  • Partnership.
  • Competitive bidding.
  • Team strategy.
  • Mental dan attitude.
  • Analisis pertandingan.

Dengan demikian, kualitas pembinaan tidak bergantung pada satu orang atau satu daerah.

XVI. KOMPETISI SEBAGAI BAGIAN DARI PRODUKSI

Atlet membutuhkan pertandingan secara rutin.

Karena itu diperlukan kalender kompetisi Sulawesi Utara yang lebih aktif.

Bentuknya dapat berupa:

  • Junior Championship.
  • Sulut Pair Series.
  • Team Championship.
  • Youth Bridge Festival.
  • Sulut Open.
  • Inter-City Championship.
  • Junior Camp.
  • Sulut Team Series.
  • Provincial Selection.
  • Best of Sulut Camp.
  • Sulut Championship.

Dengan demikian, atlet tidak hanya aktif ketika akan menghadapi Kejurnas.

XVII. TIGA LAPISAN KEKUATAN

Sistem pembinaan Sulut idealnya menghasilkan tiga lapisan.

LAPISAN 1
ATLET DAERAH

Jumlahnya banyak dan terus diproduksi.

LAPISAN 2
ATLET DEVELOPMENT SULUT

Pemain terbaik daerah yang masuk pembinaan provinsi.

LAPISAN 3
TIM PRESTASI SULUT

Pemain yang lolos seleksi dan siap membawa Sulut ke kompetisi nasional.

Dengan sistem ini, apabila seorang atlet berhenti atau mengalami penurunan performa, Sulut tetap memiliki regenerasi.

XVIII. HUBUNGAN DAERAH DAN PROVINSI

Paradigma yang perlu dibangun:

Tomohon tidak kehilangan atlet ketika atletnya masuk program Sulut.

Minut tidak kehilangan identitas ketika atletnya memperkuat Sulut.

Manado tidak kehilangan hasil pembinaannya ketika atletnya dipanggil TC Sulut.

Sebaliknya:

PRESTASI ATLET DAERAH
→ MEMPERKUAT SULUT

PRESTASI SULUT
→ MENINGKATKAN REPUTASI DAERAH

Sehingga tercipta hubungan:

DAERAH → SULUT → DAERAH

Bukan:

DAERAH VS SULUT

XIX. TARGET PEMBINAAN

TARGET JANGKA PENDEK

  • Mengaktifkan kembali pembinaan di setiap daerah.
  • Membentuk database atlet Sulut.
  • Memetakan junior dan atlet prestasi.
  • Membuat standar pembinaan.
  • Meningkatkan kualitas TC.
  • Mengaktifkan kompetisi antar-daerah.

TARGET JANGKA MENENGAH

  • Meningkatkan jumlah junior berkualitas.
  • Memperbanyak atlet development.
  • Membentuk lebih banyak partnership kompetitif.
  • Meningkatkan jumlah atlet Sulut di level nasional.
  • Meningkatkan kualitas pelatih.

TARGET JANGKA PANJANG

Membangun sistem produksi atlet bridge Sulawesi Utara yang berkelanjutan.

Pipeline yang harus terbentuk:

JUNIOR
→ DEVELOPMENT
→ PRESTASI
→ NASIONAL
→ REGENERASI

XX. UKURAN KEBERHASILAN

Keberhasilan GABSI Sulut tidak hanya diukur dari jumlah medali.

Indikatornya meliputi:

  1. Jumlah junior aktif.
  2. Jumlah club aktif.
  3. Jumlah atlet development.
  4. Jumlah pelatih.
  5. Jumlah kompetisi.
  6. Peningkatan kemampuan teknis.
  7. Kualitas partnership.
  8. Kedisiplinan atlet.
  9. Attitude atlet.
  10. Hasil kompetisi.
  11. Jumlah atlet yang masuk level nasional.
  12. Keberlanjutan regenerasi.

XXI. INTI GAGASAN

Konsep ini dapat diringkas menjadi:

“AKTIFKAN KEMBALI PRODUKSI DI SETIAP DAERAH, TINGKATKAN KUALITASNYA, KOLABORASIKAN HASILNYA, DAN BENTUK TIM TERBAIK SULAWESI UTARA.”

Tomohon bukan pusat yang mengambil atlet daerah lain.

Minut bukan pesaing yang harus dikalahkan.

Manado, Bitung, Minahasa dan daerah lainnya bukan sekadar peserta.

SEMUA DAERAH ADALAH PRODUSEN.

GABSI SULUT ADALAH INTEGRATOR.

ATLET TERBAIK DARI SELURUH DAERAH ADALAH MODAL TIM SULUT.

XXII. PENUTUP

Sulawesi Utara tidak perlu memulai dari nol.

Kita sudah memiliki pemain.

Kita sudah memiliki club.

Kita sudah memiliki pengalaman.

Kita sudah memiliki daerah-daerah yang pernah menghasilkan prestasi.

Yang diperlukan adalah menghubungkan seluruh kekuatan tersebut dalam satu sistem pembinaan.

Karena itu arah pembinaan GABSI Sulut perlu bergerak:

DARI PEMAIN MENJADI ATLET.

DARI CLUB MENJADI NETWORK.

DARI DAERAH MENJADI KEKUATAN PROVINSI.

DARI LATIHAN MENJADI PROGRAM.

DARI TC MENJADI DEVELOPMENT SYSTEM.

DARI PRESTASI MENJADI REGENERASI.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembinaan bukan hanya berapa banyak piala yang diperoleh hari ini.

Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah:

“APAKAH SETELAH KITA SELESAI MEMBINA HARI INI, SULAWESI UTARA MEMILIKI GENERASI ATLET YANG LEBIH BANYAK, LEBIH KUAT, LEBIH DISIPLIN, LEBIH BERKARAKTER DAN LEBIH SIAP BERSAING DI TINGKAT NASIONAL?”

Jika jawabannya ya, maka pembinaan telah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada satu kemenangan pertandingan (*).