TOMOHON, MILENIUMTIMES.id — Moch Alfian Eko Prasetyo, Peneliti Independen Heritage Lovers Indonesia (IHLI) akan memperkenalkan sebuah pendekatan baru dalam membaca sejarah awal Minahasa melalui kajian interdisipliner yang memadukan arkeologi, filologi, dan antropologi.
Fokus kajiannya adalah pembacaan piktogram atau petroglif di Situs Watu Pinawetengan sebagai salah satu peninggalan megalitik penting di Minahasa.

Hal ini akan dibahas dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk, Tomohon the Story of Minahasa, “World Peace” yang akan digelar hari ini, Selasa, 4 Agustus 2026 Pkl. 15.00 Wita bertempat di Command Center Kantor Wali Kota Tomohon.
Dalam rilisnya, Doctor of Philosophy Archaeology Leiden University Netherland ini mengatakan melalui pendekatan kajiannya dia mengajukan sebuah hipotesis.

“Bahwa masyarakat awal Minahasa terbentuk dari proses migrasi berbagai kelompok penutur Austronesia yang datang secara bertahap dan hidup dalam suatu tatanan sosial yang terorganisasi”
“Karena masyarakatnya sejak awal terdiri atas banyak kelompok, sistem perkawinan yang berkembang diduga lebih mengarah pada perkawinan antarkelompok (eksogami), bukan perkawinan sedarah,” tulis Prasetyo.

Namun kajian ini tidak hanya membahas asal-usul masyarakat Minahasa, tetapi juga mencoba menunjukkan bahwa nilai-nilai musyawarah, hidup berdampingan, dan penyelesaian konflik secara damai telah menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban Minahasa sejak masa megalitik.
“Melalui perspektif ini, berharap dapat memberikan sudut pandang baru dalam memahami sejarah Minahasa berdasarkan pembacaan ilmiah terhadap bukti arkeologis, filologis, dan antropologis,” tandas Prasetya pria low profile (fry).

Tinggalkan Balasan